Selasa, 28 April 2015

Sejarah dan Perkembangan Desa Jatilaba/Karanganyar Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal

Sejarah dan Perkembangan Desa Jatilaba/Karanganyar Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal

 
    Desa Jatilaba atau Karnganyar adalah 1 desa yang memiliki dua nama terletak di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Namun hakikatnya  Desa Karanganyar adalah bagian dari Desa Jatilaba. Jadi sebagian dari Desa Jatilaba disebut dengan Desa Karanganyar. Namun Desa Jatilaba dan Karanganyar mempunyai satu kepala desa. Artinya masih dalam satu wilayah desa dan satu kekuasaan. Bagaimana cerita dari Desa Jatilaba atau Karanganyar ini? Di bawah adalah penjelasannya.
     Saat Indonesia belum merdeka, dan saat Indonesia masih dalam jajahan belanda dan jepang. Beberapa masyarakat Indonesia masih dapat melakukan.aktivitasnya sehari-hari. Di suatu tempat terdapat tempat yang dijadikan sebagai tempat perdagangan masyarakat setempat. Saat itu Belanda telah memasuki kawasan tersebut karena menggagas bagian wilayah tersebut dengan bangunan-bangunan belanda (nantinya akan menjadi waduk cacaban). Karena pada masa itu tempat tersebut masih dipenuhi dengan hutan dan sungai maka perdagangan dan transaksi yang dilakukan oleh orang-orang setempat masih sederhana. Misalnya pada saat itu orang-orang masih menggunakan alat-alat sederhana ketika mencari kayu di hutan atau masih menggunakan perahu kayu (getek) sebagai alat transportasi. Pada saat itu pun masih banyak transaksi dengan cara barter (barang ditukar dengan barang). Wilayah tersebut sangat subur. Baik subur airnya maupun subur tumbuhannya. Tak heran bila orang-orang Belanda yang saat itu menjajah tempat itu sangat memanfaatkan situasi tersebut. Dengan mengambil begitu saja hasil alam yang ada di daerah tersebut. Dan itu membuat masyarakat sekitar tidak berani berkutik dan berurusan dengan Belanda. Karena Belanda selalu menjanjikan kemerdekaan pada masyarakat Indonesia maka Belanda mulai menggagas sebuak proyek pembangunan di daerah tersebut. Proyek yang dibangun oleh Belanda itu dijanjikan kepada masyarakat sekitar guna untuk membantu perekonomian mereka.
     
     Pada saat itu mereka belum menamai apa proyek yang di jalankan oleh pemerintah Belanda di area tersebut. Karena seluruh area tersebut belum memiliki nama akhirnya secara otomatis masyarakat sekitar mulai mencari-cari nama yang tempat untuk keseluruhan daerah mereka itu. Tidak pasti siapa yang mempunyai gagasan pertama atas nama area atau wilayah itu. Yang jelas di tempat itu sebagian besar di tumbuhi oleh pohon-pohon   besar dan sebagian lagi sungai. Namun perbandingannya masih banyak pohon-pohon yang tumbuh. Pohon-pohon yang tumbuh di area tersebut sebagian besar adalah pohon Jati dan pohon Laban. Pohon Jati adalah pohon yang biasa tumbuh di hutan-hutan. Pohonnya besar, batangnya kuat, dan akarnya tunggang. Pohon Jati ini biasa di manfaatkan oleh manusia diambil batangnya kemudian untuk membangun rumah-rumah, perahu kayu atau apapun yang menggunakan kayu. Karena kayu jati ini sangat kuat maka tak heran manusia memanfaatkannya. Sama halnya dengan Pohon Jati, Pohon Laban juga memiliki batang yang besar, namun bedanya Pohon Laban ini batangnya tidak sekuat batang Pohon Jati. Kayu pohon Laban ini tidak bisa dijadikan sebagai bangunan rumah seperti kayu jati yang kuat. Biasanya Pohon Laban ini dimanfaatkan oleh orang untuk membuat kayu bakar atau kentongan. Orang-orang di wilayah tersebut masih sangat bergantung kehidupannya dengan Pohon Jati dan Pohon Laban itu. Karena wilayahnya memang dipenuhi dengan Pohon Jati dan Pohon Laban itu.
     
       Karena banyaknya Pohon Jati dan Pohon Laban di area itu sampai tidak terhitung dan sepeti hutan, maka area tersebut dinamakan sebagai Jatilaba yang berarti dari kata “jati” dan “laban”. Tidak jelas siapa penemu nama tersebut dan kapan tahunnya (karena keterbatasan sumber dan waktu) namun orang-orang tersebut jelas sudah menyepakati bahwa daerah itu dinamakan Desa Jatilaba. Lebih kurang menurut informasi dari narasumber, pada tahun 1943 daerah tersebut dinamakan Jatilaba sudah ditetapkan. Setelah ditetapkan nama daerah tersebut dengan nama Jatilaba, orang-orang sekitar masih melakukan transaksi jual-beli untuk kehidupan sehari-hari mereka. Perdagangan di Desa Jatilaba semakin pesat juga semakin besar. Barang-barang mulai bervariasi. Karena faktor tersebut maka pada satu titik di wilayah Desa Jatilaba di buka pasar dengan nama Pasar Jatilaba guna untuk memenuhi segala transaksi jual-beli orang-orang sekitar. Sampai sekarang Pasar Jatilaba masih beroperasi. Walaupun sampai sekarang Pasar Jatilaba eksistensinya masih tinggi dan bertambah pesat namun tidak begitu dengan eksistensi nama Desa Jatilaba yang saat ini sudah tidak dijadikan kelurahan lagi. Mengapa?
Semakin hari penduduk di Desa Jatilaba semakin bertambah karena keberhasilan wilayah Jatilaba dalam perdagangan. Maka wilayah di Desa Jatilaba diperluas kembali. Karena masih banyak tanah-tanah kosong di sekitar Desa Jatilaba maka tanah-tanah kosong itu masuk dalam wilayah Desa Jatilaba dan dianamakan Desa Karanganyar. Karanganyar berarti “karang” dan “anyar”. Karang berati halaman atau tanah dan anyar berarti baru. Adanya tanah-tanah kosong itu dinamakan sebagai Karanganyar. Pada saat di tetapkan nama Desa Karanganyar itu adalah awal mula masa jabatan kepala desa pertama. Yaitu lebih kurang tahun 1946 setelah Indonesia merdeka dan terlepas dari jajahan Belanda. Sejak diangkatnya kepala desa pertama  yaitu Bapak Kerta Utama pada tahun itu, maka Desa tersebut sampai sekarang kelurahannya menjadi kelurahan Desa Karanganyar. Desa karanganyar tidak begitu saja ditetapkan kelurahannya. Penetapan kelurahan menjadi Desa Jatilaba atau Karanganyar ini tidak begitu saja terjadi. Padahal dulunya seluruh wilayah itu bernama Jatilaba, dan Karnganyar hanya sebagian wilayah dari wilayah Jatilaba. Lebih  kurang saat tiga tahun sudah jabatan Bapak Kerta Utama, beliau mengutus anak-anak buahnya untuk mengadakan rapat penetapan nama keluruhan desa mereka. Hasil musyawarah itu bahwa ada tujuh pedukuhan yang ditetapkan di Desa Karanganyar. Setiap satu pedukuhan terdiri dari empat RT, lalu setiap empat  RT ditetapkan menjadi satu RW. Walaupun Jatilaba adalah nama keseluruhan dari wilayah itu, namun atas persetujuan masyarakat yang dipimpin oleh Bapak Kerta Utama itu maka kelurahannya hanya menjadi Desa Karanganyar walaupun dahulunya Karanganyar hanya sebagian dari wilayah Jatilaba. Mereka menetapkan bahwa nama Desa Karanganyar sebagai kelurahan baru dan benar-benar nama desa yang memang mereka tetapkan di daerah mereka. Kalau nama Desa Jatilaba itu hanya menjadi sejarah dari asal-usul desa atau wilayah itu dibentuk. Nama Jatilaba tidak akan pernah hilang dari sejarah, karena nama Desa Jatilaba adalah pertama ditemukannya nama untuk desa itu. Selain itu nama psar di karanganyar juga sudah di paten menjadi Pasar Jatilaba.
Beberapa tahun setelah diangkatnya Bapak Kerta Utama menjadi kepala desa. Lebih kurang pada tahun 1952 ternyata proyek yang dirilis oleh pemerintah Belanda akan dibangun, pembangunan fisik proyek tersebut dimana presiden Ir. Soekarno yang meletakan batu pertamanya sebagai simbol dibangunnya waduk cacaban yang diperuntunkan untuk warga sekitar guna untuk meningkatkan ekonomi mereka. Pada saat itu walaupun waduk cacaban belum diresmikan, namun bendungan yang dibuat dari beberapa arus sungai itu sudah digunakan bertransportasi air masyarakat setempat dengan lebih mudah meskipun masih menggunakan perahu kayu namun menjadi lebih mudah dengan dibuatnya bendungan itu. Selain pembangunan itu, pembangunan yang lain juga dilakukan di Desa Karangayar ini. Karena keresahan warga dengan jalan setapak yang dilalui mereka ketika bertransportasi perdagangan, maka setelah bendungan itu dibuat jalan-jalan yang bisa dilewati dengan leluasa dibanding jalan setapak. Waduk cacaban selesai dibangun pada tahun 1958 dan diresmikan pada tahun itu dan sampai saat ini masih beroperasi sebagai wisata. Karena waduk cacaban ini adalah sebuah bendungan yang besar dan pertemuan dari 9 arah sungai menjadi satu. Waduk cacaban ini yang terletak di Desa Karanganyar menjadi sangat membantu pengairan warga sekitar. Selain untuk membantu perekonomian waduk cacaban juga dijadikan salah satu objek wisata di tegal. Saat pembangunan Waduk Cacaban itu Desa Karanganyar masih dalam pemerintahan kepala desa Bapak Kerta Utama yang mengalami banyak perubahan.
     Masa pemerintahan kepala desa Bapak Kerta Utama dari tahun 1946 sampai tahun 1972. Bapak Kerta Utama sebagai kepala desa pertama di Desa Karanganyar telah melewati banyak perjuangan untuk Desa Karanganyar. Banyak sekali perkembangan dan pembangunan di Desa Karanganyar saat itu. setelah 1973 diadakanlah pesta pemilihan kepala desa. Dari hasil pemilihan itu maka terpilihlah Bapak Sudarmo sebagai kepala desa yang kedua di Desa Karanganyar. Masa jabatan Bapak Sudarno adalah dari tahun 1973 sampai 1993. Pada masa jabatan Bapak Sudarono terdapat banyak sekali peningkatan-peningkatan yang kreatifitas untuk warga. Banyak yang beliau lakukan utnuk menjadikan Desa Karanganyar lebih baik. Setelah tahun 1992 masa kepemimpinan Bapak Sudarno digantikan oleh Bapak Kanapi dikarenakan wafatnya Bapak Sudarno maka jabatannya harus segera digantikan. Masa jabatan Bapak Kanapi memberi dampak baru bagi Desa Karanganyar. Pembangunan Desa Karanganyar semakin merata. Dari mulai pembangunan jalan-jalan sampai dibuatnya joglo Balai Desa. Bapak Kanapi menjabat dalam kurun waktu lebih kurang 10 tahun. Setelah itu pada tahun 2002 jabatan kepala desa Bapak Kanapi digantikan oleh Bapak Rata Sugarto. Dalam masa jabatan Bapak Rata, Desa Karanganyar juga lebih dibenahi kembali. Bapak Rata menjabat dalam 2 periode. Sehingga pada tahun 2013 ini Bapak Rata tidak bisa mencalonkan diri lagi dan tahun 2013 ini Bapak Nuryantolah yang mengisi jabatan kepala desa Desa Karanganyar ini.
Fakta yang paling unik adalah Bapak Nuryanto ini adalah salah satu cucu (keturunan asli) dari Bapak Kerta Utama (Bapak kepala desa Desa Karanganyar yang pertama). Jadi Bapak Nuryanto yang sekarang ini menjabat sebagai kepala desa adalah keturunan asli dari Bapak Kerta Utama yang melalui masa-masa pertama terbentuknya Desa Karanganyar setelah ditetapkan dalam kelurahan sebelum dahulu nama desa itu adalah Jatilaba. Meskipun begitu nama Jatilaba masih akan menjadi sejarah terbentuknya desa itu karena nama Jatilaba telah dipatenkan menjadi nama pasar satu-satunya di Desa Karanganyar. Nama Jatilaba dan Karanganyar sampai saat ini telah mendarahdaging bagi mereka sebagai satu desa yang sama. Meskipun kebenarannya adalah Desa Karanganyar adalah sebagian wilayah saja dari Desa Jatilaba. Namun Desa Karanganyarlah yang kemudian dimenangkan namanya dari perundingan dan persetujuan. Sampai saat ini Karanganyarlah yang ditetapkan sebagai kelurahan di desa ini. Meskipun begitu tetap Jatilaba adalah sejarahnya.
     Seperti itulah cerita sejarah dari Desa Jatilaba yang kemudian sekarang menjadi Kelurahan Desa Karanganyar. Serta sedikit perkembangan dari Desa karanganyar berdasar masa jabatan tiap kepala desa.
Sumber : http://istiqomahyuniarti.blogspot.com/2014/10/sejarah-dan-perkembangan-desa.html

Ketoprak : Makanan Rakyat, Rasa Lezat

Ketoprak : Makanan Rakyat, Rasa Lezat


Siapa yang tak kenal kudapan satu ini? Yap! Ketoprak. Sobat pasti sering melihat tukang gerobak keliling yang menjual jenis kuliner satu ini. Karena cita rasanya yang cetar membahana, ketoprak tidak hanya terkenal di Jakarta. Tetapi juga di daerah Jawa Barat lainnya. Ternyata setelah diusut, asal-usul makanan ini adalah dari Betawi.

Bicara soal tampilannya nih. Bagi yang suka dengan sayur-mayur, pasti akan menggemari makanan ini. Sebab, selain menggunakan bahan dasar lontong, ketoprak juga mencampurkan berbagai macam sayuran segar alias masih mentah yang sudah dicuci bersih. Campuran itu kemudian diberi bumbu sambal kacang yang menghasilkan warna cokelat, terlihat nikmat! Belum lagi kerupuk yang semakin menyemarakkan tampilannya.

Jika sobat ingin membuatnya di rumah, gampang saja. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah membuat sambal kacangnya terlebih dahulu. Ini bisa dilakukan dengan mencampurkan kacang tanah yang sudah digoreng, cabe rawit sesuai selera, 3 siung bawang putih, 30 gr gula merah yang telah dihaluskan, serta 1 sendok teh garam. Haluskan campuran tersebut, kemudian aduk dengan air hingga mengental.

Selanjutnya, membuat menu inti. Pertama, sobat perlu merendam tahu dengan larutan garam , bawang putih, dan air. Jika sudah, goreng sampai matang dan dipotong kecil-kecil. Lalu, rebus bihun dan taoge hingga matang, kemudian tiriskan. Selanjutnya, siapkan piring. Kemudian letakkan tahu goreng, lontong, taoge, dan bihun di atasnya. Jika suka, sobat bisa menambahkan mentimun, telur, bawang goreng, atau bahkan irisan seledri. Jangan lupa melumuri dengan sambal kacang dan diakhiri dengan taburan kerupuk. Maka, ketoprak lezat siap disantara
Sumber : http://www.lebaran.com/kuliner/item/677-ketoprak-makanan-rakyat-rasa-lezat.html